LANDASAN mahasiswa maupun akan datang. Mahasiswa perlu memiliki

 LANDASAN TEORI

Basic reading  adalah mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa
semester  satu
program studi  Pendidikan bahasa Inggris .Pada mata kuliah ini  mahasiswa
diharapkan mampu menguasai kosakata dan  memahami teks dengan baik , sehingga  dapatmendukung   keterampilan 
 berbahasa 
 yang   lain.
   hal   ini 
 juga diharapkan dapat
meningkatkan prestasi
dan hasil belajar mahasiswa.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Salah satu
keterampilan dalam belajar bahasa Inggris adalah keterampilan membaca yang
sangat berperan penting dalam kehidupan mahasiswa baik saat menjadi mahasiswa
maupun akan datang. Mahasiswa perlu memiliki keterampilan membaca untuk dapat
meningkatkan keterampilan berbahasa yang lain. Dengan begitu mahasiswa diharapkan
dapat pula meningkatkan prestasi belajarnya. Selain itu dengan kegiatan membaca
mahasiswa akan banyak memperoleh pengetahuan dan informasi yang berguna dalam
kehidupannya. Keterampilan  membaca
merupakan  proses untuk memahami dan
menafsirkan symbol atau informasi yang ditulis oleh sipenulis.  Kegiatan membaca dan menulis merupakan suatu
kegiatan yang unik dan rumit (Mulyani, 2009). Rumit dapat diartikan faktor
eksternal dan internal saling berhubungan yang menunjang pemahaman terhadap
bacaan. Faktor internal seperti, intelijensi, minat, dll. Faktor eksternal
seperti, sarana dan prasaran, sosial ekonomi, bahan ajar, dan sebagainya.

 Bahan ajar merupakan salah satu  komponen 
penting dan harus ada dalam proses pembelajaran, karena dalam bahan ajar
terdapat bahan pembelajaran yang harus dikaji, dicermati, materi yang akan
dipelajari dan dikuasai oleh mahasiswa. Bahan ajar juga dapat dijadikan pedoman
untuk mempelajarinya. Tanpa bahan ajar maka pembelajaran tidak akan berjalan
lancar.  Bahan ajar yang didesain dengan
desain yang menarik dapat menstimulasi mahasiswa untuk belajar dan
memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Bahan ajar yang didesain secara lengkap
juga dapat berperan sebagai bahan belajar mandiri. Bahan ajar ini dilengkapi
dengan tujuan pembalajaran/kompetensi, uraian materi dengan kegiatan
pembelajaran, tes formatif, kunci jawaban, daftar pustaka.

Menurut beberapa
para ahli,  bahan ajar adalah segala
bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan
kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan
tertulis maupun bahan tidak tertulis. Bahan ajar merupakan informasi, alat dan
teks yang diperlukan guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaahan
implementasi pembelajaran. Berdasarkan pendapat tersebut, bahan ajar adalah
seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak
sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Pernyataan
diatas didukung oleh  Syaiful (1997: 50) dia
berpendapat bahwa  bahan ajar adalah
salah satu sumber belajar bagi anak didik. Sehingga bahan ajar adalah substansi
yang akan disampaikan dalam proses belajar 
mengajar.    

Peran bahan ajar
bagi pembelajar yaitu  mahasiswa dapat
belajar tanpa harus ada dosen atau teman mahasiswa lain, mahasiswa dapat
belajar kapan dan di mana saja,  mahasiswa
dapat belajar dengan kecepatannya masing-masing, mahasiswa dapat belajar melalui
urutan yang dipilihnya sendiri, membantu mengembangkan potensi mahasiswa untuk
menjadi pembelajar mandiri (Suranto, 2013) .

Proses Penyusunan
Bahan Ajar meliputi beberapa komponen menurut Suparman (2012) adalah yaitu: (a)
Merumuskan Tujuan Instruksional Umum merupakan langkah pertama dalam proses
pembelajaran. Namun, sebelum menulis TIU guru perlu mengidentifikasi kebutuhan
instruksional. Kebutuhan instruksional adalah suatu proses untuk menentukan
kesenjangan penampilan peserta didik yang disebabkan kekurangan pendidikan dan
pelatihan pada masa lalu; mengidentifikasi bentuk kegiatan instruksional yang
paling tepat.

 Dari kegiatan mengidentifikasi kebutuhan
instruksional diperoleh jawaban bahwa penyelesaian masalah kesenjangan antara
keadaan saat ini dengan yang diharapkan adalah penyelenggaraan pembelajaran.
Tujuannya adalah tercapainya kompetensi yang tidak pernah dipelajari atau belum
dilakukan dengan baik oleh peserta didik. Kompetensi yang diharapkan itu bersifat
umum atau tinggi sekali. Ia merupakan hasil belajar yang diharapkan dapat
dikuasai peserta didikk setelah menyelesaikan kegiatan instruksional. Hasil
belajar ini disebut tujuan instruksional; (b) Melakukan Analisis Instruksional.
Analisis instruksional adalah proses menjabarkan kompetensi umum menjadi
subkompetensi, kompetensi dasar, atau kompetensi khusus yang tersusun secara
logis dan sistematik. Kegiatan tersebut untuk mengidentifikasi daftar
subkompetensi dan menyusun hubungan antara subkompetensi yang satu dan
subkompetensi yang lain menuju kompetensi umum; (c) Menentukan Perilaku Awal Mahasiswa.

Menentukan prilaku
awal, dilakukan untuk megidentifikasi kompetensi dasar yang telah dikuasai oleh
peserta didik.  Menentukan prilaku awal
dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti: kuesioner, interviu, observasi,
dan tes; (d) Merumuskan Tujuan Instruksional Khusus. Dalam merumuskan TIK,
kalimat yang digunakan adalah kalimat yang jelas, pasti, dan dapat terukur.
Yang dimaksud dengan perumusan TIK secara jelas adalah TIK yang diungkapkan
secara tertulis dan diinformasikan kepada peserta didik sehingga peserta didik
dan pengajar mempunyai pengertian yang sama tentang apa yang tercantum dalam
TIK. Perumusam TIK secara pasti, artinya TIk tersebut mengandung satu
pengertian, atau tidak mungkun ditafsirkan kedalam pengertian lain. Untuk itu,
TIK dirumuskan dalm bentuk kata kerja yang dapat dilihat oleh mata (observable).
Perumusan TIK yang dapat diukur berarti bahwa tingkat pencapaian peserta didik
dalam perilaku yang ada dalam TIK itu dapat diukur dengan tes atau alat
pengukur yang lain; (e) Langkah berikutnya adalah menyusun rencana kegiatan
pembelajaran semester (RPKPS). Item ini disusun berdasarkan TIK
yang sudah dirumuskan dan proses pemilihan materi pembelajaran; (f)
Menyusun/Menulis Bahan Ajar sesuai dengan TIU, TIK yang telah dirumuskan; (g)
Revisi/Uji Lapangan; (h) Digunakan.

Terkait dengan
hal tersebut diatas, penelitian ini bertujuan mengembangkan model  pembuatan bahan ajar membaca berbasis multimedia
interaktif.  Arsyad (2009:36-37) menjelaskan, “multimedia interaktif ialah media berbasis komputer (pengajaran dengan bantuan komputer, interaktif video, hypertexts).
Salah satu ciri dari media ini ialah bahwa ia membawa pesan atau informasi kepada penerima.

Sedangkan menurut Miarso (2009:464), “multimedia adalah
berbagai media yang dapat dikombinasikan dengan teknologi lain dalam berbagai bentuk, multimedia ini merujuk kepada berbagai bahan ajar yang membentuk satu kesatuan unit yang terpadu (satu paket).”  Susilana (2009:126) juga menjelaskan, “tujuan
multimedia interaktif sebagai bahan ajar adalah; (1) Memperjelas dan mempermudah
penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis, (2) Mengatasi keterbatasan
waktu, ruang, dan daya indera para siswa, (3) Dapat digunakan secara tepat dan bervariasi,
seperti meningkatkan motivasi dan gairah belajar para siswa untuk menguasai materi pelajaran secara utuh, mengembangkan kemampuan siswa dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya terutama bahan
ajar yang berbasis multimedia interaktif,
memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri sesuai kemampuan dan minatnya. Dan memungkinkan para siswa untuk dapat mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya.”

Adapun multimedia
interaktif yang digunakan dalam penelitian ini adalah e-learning.   E
-learning sering  dipahami sebagai suatu
bentuk pembelajaran berbasis  web yang
bisa diakses dari internet atau jaringan komputer lain . Dalam hal ini aplikasi dan materi
belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui buku ajar
yang  dikemas melalui e-learning,
selanjutnya pembelajar dapat mengakses  buku ajar tersebut  dan belajar di tempat di mana dia berada. Dengan
begitu mereka dapat mengasah keterampilan membaca dimanapun mereka ingin tampa
harus mebawa buku kemana-mana (Efendi,
2008, hlm.133)

Untuk dapat
menghasilkan e-learning yang menarik dan diminati, Purbo (2002)
mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi dalam merancang e-learning, yaitu:
sederhana, personal, dan cepat. Sistem yang sederhana akan memudahkan peserta
didik dalam memanfaatkan teknologi dan menu  yang ada. Kemudahan pada panel yang disediakan
akan mengurangi pengenalan sistem elearning, sehingga waktu belajar peserta
dapat diefisienkan untuk proses belajar dan bukan pada belajar menggunakan sistem
e-learning. Syarat personal berarti pengajar dapat berinteraksi dengan
baik seperti layaknya seorang guru yang berkomunikasi dengan murid di depan kelas.
Dengan pendekatan dan interaksi yang lebih personal, peserta didik diperhatikan
kemajuannya, serta dibantu segala persoalan yang dihadapinya. Hal ini akan membuat
peserta didik betah berlama-lama di depan layar komputer. Kemudian layanan ini ditunjang
dengan kecepatan, respon yang cepat terhadap keluhan dan kebutuhan peserta
didik lainnya. Dengan demikian perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secepat
mungkin oleh pengajar atau pengelola.

Menurut Cisco
(2001) filosofi elearning adalah. Pertama, e-learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi,
pendidikan, pelatihan secara on-line maupun offline. Kedua, e-learning menyediakan
seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara  konvensional sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi. Ketiga,
e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam
kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan isi dan pengembangan
teknologi pendidikan. Keempat, kapasitas siswa amat bervariasi tergantung
pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antara isi dan
alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada
gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik.

Menurut Rosenberg
(2001),  Nursalam (2008:135)  e-learning memiliki karakteristik sebagai berikut: (1)
memanfaatkan keunggulan komputer, (2) menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self
learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses
oleh pengguna, (3) memiliki interaksi antara materi dengan pengguna, dan (4) memanfaatkan
jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang
berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer,
dan (5) merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan berbasis
e- learning  yang disajikan baik secara on-line
maupun offline.  

Manfaat
E-learning dalam pembelajaran menurut Pranoto, dkk (2009:309) adalah:

1.   
Penggunaan E-learning untuk
menunjang pelaksanaan  proses belajar dapat meningkatkan daya serap mahasiswa
atas materi yang diajarkan.

2.   
Meningkatkan partisipasi aktif
dari mahasiswa.

3.   
Meningkatkan partisipasi aktif
dari mahasiswa.

4.   
Meningkatkan kemampuan belajar
mandiri mahasiswa.

5.   
Meningkatkan kualitas materi
pendidik dan pelatihan.

6.   
Meningkatkan kemampuan
menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dimana dengan
perangkat biasa sulit dilakukan.

Hasil penelitian
sebelumnya menyatakan bahwa bahan ajar yang dikemas melalui         e-learning dapat meningkatkan kemampuan
membaca siswa. hasil penelitian lainnya  mengkaji efektivitas perangkat pembelajaran
membaca yang berbasis pendidikan e-learning dalam meningkatkan kemampuan
membaca.

Adapun  panduan aturan dan langkah-langkah yang perlu
dipahami dan dilakukan guru dalam menyiapkan dan menyusun bahan ajar membaca berbasis
  e-learning
 adalah; Panduan tersebut dikemas dalam
bentuk buku ajar. Panduan yang dikembangkan tersebut diharapkan dapat digunakan
sebagai acuan para guru dalam mengembangkan bahan ajar berbasis teknologi
mutakhir, yaitu multmedia interaktif dan dipakai sebagai acuan para trainer
dalam  melaksanakan pelatihan pembuatan bahan
ajar berbasis teknologi mutakhir, yaitu multmedia interaktif berbentuk e-learning.

Desain pengembangan
yang digunakan diadopsi dari desain  penelitian
pengembangan model Recursive, Reflective Design and Development atau
disingkat R2D2 (Willis, 1995).  R2D2
memiliki 4 prinsip, yaitu: (1) recursion, (2) reflection, (3)
nonlinear, dan (4) desain partisipatori.

Prinsip recursion,
mengizinkan pengembang untuk menetapkan keputusan sementara dan meninjau
kembali keputusannya tentang produk atau proses, setiap saat dalam perencanaan
dan pengembangan produk, dan membuat perbaikan dan revisi jika  diperlukan. Prinsip reflection,
menuntut  pengembang untuk merefleksi,
memikirkan ulang secara sungguh-sungguh, mencari dan menemukan umpan balik dan ide-ide
dari banyak sumber selama proses perancangan dan pengembangan. Prinsip nonlinear,
mengizinkan pengembang untuk memulai pengembangan tidak secara urut dengan menggunakan
format baku yang harus diikuti secara ketat mulai  dari awal sampai dengan akhir. Sebagai  contoh, pengembang dapat menetapkan tujuan
sementara, dan tujuan, dikembangkan sepanjang proses dan mungkin bisa terjadi belum
lengkap dan jelas sampai akhir proyek. Prinsip terakhir, desain partisipatori,
pengembang melibatkan tim partisipan yang dilibatkan secara ekstensif dalam
semua fase dari proses perencanaan dan pengembangan.  

 

KERANGKA MODEL PENGEMBANGAN

Kerangka model pengembangan penelitian ini
akan di jelaskan berikut ini:

 

                                       Penetapan                       Proses                        Produk

 

 

 

 

 

 

 

        

Bagan
1: Prosedur Pengembangan

 

Model R2D2,
sesuai untuk mengembangkan panduan/perangkat yang berbasis teknologi/e-learning.
Hal ini karena untuk mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis e-learning
diperlukan editing dan refleksi berulang-ulang, sehingga diperlukan prinsip recursion
dan reflection. Demikian juga dalam organisasi perangkat berbasis
multimedia diperlukan program interaktif, yaitu pengguna dapat berinteraksi
dengan program, dan prinsip nonlinear sangat tepat digunakan untuk pengembangan
program berbasis multimedia. Untuk mengembangkan program berbasis multimedia diperlukan
tim yang ahli di bidangnya masing-masing, karena itu prinsip partisipatif
sangat tepat digunakan dalam pengembangan perangkat pembelajaran berbasis
multimedia.  Selaras dengan prinsipnya
yang nonlinear, prosedur pengembangan dalam model  R2D2 bukan merupakan tahapan tetapi
dinyatakan dalam bentuk fokus pengembangan. Ada tiga fokus dalam  pengembangan ini, yaitu (1) fokus penetapan,
(2) fokus penentuan desain dan pengembangan, dan (3) fokus diseminasi produk.
Prosedur pengembangan dapat dilihat pada Bagan 1.

Penetapan adalah
salah satu fokus pengembangan dalam model R2D2. Ada dua kegiatan pokok yang
dilakukan pada fokus penetapan, yaitu (1) penetapan spesifikasi produk yang
dikembangkan (Design Bahan Ajar) dan (2) penetapan tim partisipatif (penilaian design). Tim partisipatif dalam pengembangan
ini adalah (2) tim ahli, (2) dosen, dan (2) praktisi.  Penentuan desain dan pengembangan adalah salah
satu fokus pengembangan dalam model R2D2. Ada dua kegiatan pokok yang dilakukan
pada fokus penentuan desain dan pengembangan, yaitu (1) persiapan dan (2)
pengembangan. Pada tahap persiapan, ada tiga kegiatan yang dilakukan, yaitu (1)
penentuan kisi-kisi pengembangan panduan bahan ajar membaca berbasis  e-learning, (2) penentuan materi, yaitu
konsep, contoh, dan kegiatan, untuk pengembangan panduan bahan ajar membaca berbasis
 e-learning, dan (3) penentuan
media untuk menyajikan produk yang dikembangkan.

 Pada kegiatan pengembangan, ada dua kegiatan yang
dilakukan, yaitu  (1) pengembangan draf materi,
yaitu konsep, contoh, dan kegiatan untuk pengembangan panduan bahan ajar
membaca berbasis e-learning dan (2) pengemasan panduan bahan ajar membaca berbasis
dalam paket multimedia interaktif (buku ajar yang dikemas  dalam e-learning). Produk yang telah
dikembangkan diujicobakan kepada (1) calon pengguna produk, yaitu 39 mahasiswa
semester 1, program studi pendidika bahasa Inggris, (2) uji ahli dan praktisi.
Uji coba produk dalam model R2D2 bertujuan untuk memperoleh umpan balik. Umpan
balik digunakan untuk dasar perbaikan produk yang telah dikembangkan (Willis,
1995). Umpan balik berupa kritik, komentar, dan saran. Produk yang telah
direvisi kemudian dikemas dalam bentuk buku ajar dan didiseminasikan kepada
para pengguna produk dalam jumlah yang lebih besar, dengan cara diunggah
(upload) di website.

Data pengembangan ini berupa
data kualitatif, yaitu tanggapan (komentar, kritik, dan saran) dan penilaian
dari tim partisipan selama proses pengembangan. Selaras dengan data
pengembangan tersebut, sumber data kualitatif adalah seluruh tim partisipatif,
yaitu 2 orang ahli pembelajaran membaca, 1 orang ahli multimedia, 1 orang
praktisi multimedia, dan 2 orang dosen bahasa Inggris. 

Dalam pengembangan ini,
peneliti berperan sebagai instrumen kunci pada pengumpulan, analisis, dan
penafsiran data.  Dalam pengumpulan data
kualitatif, peneliti akan  menggunakan
instrumen bantu berupa format catatan lapangan, panduan penelaahan produk, dan
angket. Analisis data dalam penelitian ini akan  dipilah menjadi dua, yaitu analisis data dari
hasil uji coba penerapan  produk dan
analisis data dari pakar/praktisi. Analisis data dari hasil uji coba produk
dilakukan terhadap komentar, kritik, dan saran dari para calon pengguna produk
selama proses uji coba berlangsung. Analisis data dilakukan dengan cara
mengelompokkan data berdasarkan domain yang selaras  dengan masalah penelitian, menafsirkan  data, merefleksikan data, dan menyimpul- kan
hasil analisis. Hasil analisis ini dipakai untuk menyempurnakan produk.  Analisis data dari pakar/praktisi dilakukan
dengan teknik analisis domain. Data dikelompokkan berdasarkan cakupannya, yaitu
dari aspek multimedia dan dari aspek isi. Masing-masing aspek dibedakan atas
aspek telaah umum dan aspek telaah khusus. Perolehan data pada setiap kelompok
data akan direfleksi untuk dibuat simpulan hasil analisis. Simpulan analisis tersebut
dimanfaatkan untuk melakukan revisi produk.

 

SYNTAX PEMBELAJARAN

Diatas
sudah diterangkan langkah-langkah pembelajaran model penelitian ini. Adapun
tahap-tahap pembelajaran penelitian ini  adalah penyusunan bahan ajar yang dikemas  dengan e learning. Syntax pembelajaran yang
memadukan kedua pendekatan ini dapat digambarkan sebagai berikut. Pengembangan materi pembelajaran
dimalai dengan mengidentifikasi atau merumuskan tujuan instruksional umum (TIK). TIK ini menggambarkan
kompetensi yang
harus dikuasai secara umum atau global setelah mengikuti
pembelajaran mata
kuliah basic
reading. Maka berdasarkan analisis kebutuhan mahasiswa, setelah mengikuti mata kuliah basic reading   diharapkan “mampu membaca dan memperkaya kosakata, menemukan main idea,
finding topics, dan
kata ganti, inferences dalam bacaan  
pendek khususnya dalam short stories dan short scientific articles dengan
mengaplikasikan
strategi-strategi  membaca seperti (1)
scanning,
(3) skimming, dll.

Langkah   selanjutnya   adalah   menyusun 
 analisis 
 instruksional. 
 Dalam
menyusun analisis instruksional dipilih tema atau topik yang
sesuai dengan usia
mahasiswa   yaitu   antara
 18-19   tahun.  
Topik   atau  tema
 tersebut   sebagian merupakan
isu-isu
sosial yang biasa didengar oleh mahasiswa.

Selanjutnya
adalah merumuskan tujuan instruksional khusus. Rumusan dalam tujuan instruksional khusus merupakan sub kompetensi yang merupakan penjabaran dari kompetemsi umum (TIU). Sub kompetensi yang
dimaksud adalah
kompetensi yang harus dikuasai atau dimiliki oleh mahasiswa
patiap akhir
pembelajaran. Maka
tujuan instruksional khusus adalah: (1) Membaca nyaring dengan pengucapan yang baik dan benar; (2) Mengidentifikasi makna kosakata
berdasarkan    konteks;    (3)  
 Mahasiswa  
 berkemampuan    menjelaskan    dan
menerapkan strategi membaca serperti: scanning, skimmimng, locating the main idea; (4) Mahasiswa berkemampuan menjelaskan strategi membaca serperti: Understanding reference, Making inference; (5) Mahasiswa
berkemampuan
menjelaskan  strategi
 membaca  serperti:
 Thinking
 logically,
 Guessing
 meaning from context; (6) Mahasiswa
berkemampuan menentukan main idea; (7) Mahasiswa berkemampuan menentukan inference; (8) Mahasiswa berkemampuan
menentukan reference; (9) Mahasiswa berkemampuan menemukan makna kata.

Berikutnya adalah penyusunan rencana
kegiatan pembelajaran semester
(RPKPS).
 Ada
 beberapa  aspek
 yang  ditampilkan  dalam  RPKPS, yaitu:kemampuan akhir yang diharapkan, pokok  bahasan, sub pokok bahasan,
estimasi/alokasi
waktu, dan sumber kepustakaan pada tiap pertemuan.

Semua
langkah-langkah aktivitas pengembangan ini akan disajikan dalam bentuk buku
ajar yang dikemas melalui  e-learning.
Mahasiswa dapat mengakses seluruhaktivitas ini melalui e-learning.

 

References

 

Nunan, David. 1999. Second Language Teaching
and Learning. Boston: Heinle & Heinle Publishers.

Nursalam
dan Ferry Efendi. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Pranoto,
Alvini.dkk. 2009. Sains dan Teknologi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Marshall, Nicola; Caygill, Robin; dan May,
Steve. 2008. PISA 2006: Reading  literacy
– How ready are our 15-year-olds for tomorrow’s world? www.
PISA.org.

Leu, Donald J. 2002. “The New Literacies:
Research on Reading Instruction With the Internet”. Dalam Alan E. Farstrup dan
S.Jay Samuels (Eds.) What Research has to Say about Reading Instruction.
Newark, Delaware: Reading Association.

Suparman, A. 2012. Desain Instrusional Modern. Erlangga: Jakarta.

Mulyani,
S. 2009. Upaya
Meningkatkan Kemampuan Membaca Menulsi
Permulaan Siswa Kelas I Melalui Penerapan  Pendekatan Pembelajaran Terpadu.
FKIP Universitas Sebelas
Maret Surakarta.

Panen,
 P.  &  Purwanto.  1997. Penulisan  Bahan  Ajar.
Jakarta:  Ditjen  Dikti

Depdikbud

Willis, J. 1995.  “A Recursive, Reflective Instructional Design
Model Based on Constructivist-Interpretivist Theory”. Educational Technology,
35 (6), 5-23.